Adhan Dorong Warga Manfaatkan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan

banner 468x60

redaksiutama.id/ – Pemerintah Kota Gorontalo menggelar rapat koordinasi dan evaluasi (Rakorev) penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan, di Bandhayo Lo Yiladia, Minggu (22/02/2026).

Rapat yang dipimpin langsung Wali Kota Adhan Dambea dan dihadiri Wakil Wali Kota Indra Gobel, pimpinan OPD, serta camat se-Kota Gorontalo menghasilkan gagasan strategis untuk mengoptimalkan pekarangan rumah menjadi lahan produktif.

banner 728x90

Apa yang disampaikan Adhan bukan sekadar imbauan, Ia meminta camat dan lurah aktif menggerakkan warga menanam rica, tomat, dan kebutuhan dapur lain di halaman rumah.

“Jangan biarkan pekarangan kosong. Tanami rica, tomat, atau tanaman kebutuhan rumah tangga lainnya agar bisa membantu dapur keluarga,” ujar Adhan.

Bagi sebagian orang, ini terdengar klasik bahkan klise. Namun dalam konteks ekonomi yang dinamis dan ancaman inflasi bahan pokok di zaman ini, langkah kecil ini justru bisa menjadi strategi besar.

Pertanyaannya, mengapa pekarangan? Karena di situlah kemandirian pangan paling realistis dimulai, Ketika produksi skala rumah tangga meningkat, ketergantungan pada pasokan pasar dapat ditekan.

Logikanya sederhana semakin banyak kebutuhan dapur dipenuhi sendiri, semakin kecil tekanan saat harga melonjak. Dalam kerangka ini jelas pengendalian inflasi dan penguatan ketahanan pangan keluarga.

Adhan sendiri menekankan agar imbauan tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi disertai pendampingan. Di titik inilah kebijakan diuji: apakah ia berhenti sebagai wacana, atau benar-benar menjelma gerakan.

Ia berpotensi menjadi bantalan sosial saat harga kebutuhan pokok naik. Dalam jangka panjang, budaya memanfaatkan pekarangan bisa mengubah pola konsumsi warga, dari sepenuhnya bergantung pada pasar menjadi lebih mandiri.

Di sinilah letak urgensi kebijakan ini. Kota-kota sering berbicara tentang investasi besar, proyek fisik, dan pembangunan infrastruktur.

Sepertinya Pemerintah Kota Gorontalo memandang ini sebagai strategi rasional yang berpijak pada realitas lokal.

“Kalau ini dilakukan secara masif, selain membantu ekonomi keluarga, kita juga bisa mengantisipasi kenaikan harga kebutuhan pokok di pasaran,” tambah Adhan.

Tantangannya bukan pada sekedar ide, melainkan pada konsistensi pelaksanaan. Tanpa pengawasan dan pendampingan berkelanjutan, gerakan ini berisiko menjadi seremonial belaka. Namun bila dikelola serius, ia bisa menjadi model pengendalian inflasi berbasis komunitas.

Walaupin Gerakan menanam membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi. Namun jika dilakukan secara masif seperti yang diharapkan adhan.

Pada akhirnya, ketahanan pangan bukan hanya urusan negara atau pasar. Ia adalah soal kesadaran kolektif. Dan mungkin, perubahan besar memang selalu dimulai dari halaman rumah yang tak lagi dibiarkan kosong.(*)

banner 336x280