Bone Bolango Waspadai Lonjakan Penyakit, Bupati Ismet Mile Minta Semua OPD Bergerak

banner 468x60

REDAKSI UTAMA.Bone Bolango – Pemerintah Kabupaten Bone Bolango memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menyusul tingginya angka kasus sejumlah penyakit menular di daerah tersebut. Bupati Bone Bolango Ismet Mile menegaskan penanganan persoalan kesehatan bukan hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan, tetapi seluruh perangkat daerah hingga aparat pemerintah di tingkat bawah.

Hal itu disampaikan Ismet saat membuka kegiatan Koordinasi, Advokasi, dan Sosialisasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tingkat Kabupaten Bone Bolango Tahun 2026 di Hotel Amaris, Kota Gorontalo, Rabu (15/7/2026).

banner 728x90

“Ini hal yang perlu diantisipasi agar kesehatan masyarakat tetap terkendali dan memberikan dampak positif bagi daerah. Saya perintahkan seluruh aparat untuk memaksimalkan tugas dan fungsi masing-masing karena ini tidak sebatas tugas Dinas Kesehatan. Harus ditindaklanjuti sampai ke tingkat bawah dan lebih dimatangkan lagi,” kata Ismet.

Ismet mengatakan pemerintah daerah juga akan memperkuat dukungan anggaran untuk program pencegahan dan pengendalian penyakit agar penanganan dapat dilakukan lebih maksimal.

“Pos anggaran pengendalian dan pencegahan penyakit akan kita besarkan. Mari maksimalkan advokasi, koordinasi, dan sosialisasi sesuai dengan tugas kita masing-masing,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Bone Bolango dr. Meyrin Kadir mengungkapkan daerah tersebut tengah menghadapi berbagai tantangan kesehatan masyarakat berdasarkan laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).

Data Dinas Kesehatan mencatat terdapat 4.882 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), 1.244 kasus diare akut, 298 kasus suspek demam tifoid, 303 kasus pneumonia dengan dua kematian, 47 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan dua kematian, 22 kasus suspek campak dengan satu kematian, serta 52 kasus gigitan hewan penular rabies yang menyebabkan satu kematian.

Selain itu, hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan kasus malaria kembali meningkat menjadi 116 kasus. Padahal sebelumnya Bone Bolango telah berada pada kondisi zero report malaria.

“Peningkatan kasus malaria ini dipengaruhi mobilitas pekerja penambang dari daerah endemis malaria yang masuk ke Bone Bolango. Kondisi ini dapat mengancam status eliminasi malaria yang selama ini berhasil dipertahankan,” ujar Meyrin.

Menurut Meyrin, meningkatnya kasus penyakit dipengaruhi berbagai faktor, di antaranya krisis sanitasi, rendahnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menurunnya budaya kerja bakti, serta kebiasaan membuang sampah sembarangan yang memicu munculnya sarang penyakit.

Ia juga menyoroti tingginya kasus ISPA, pneumonia, dan tuberkulosis yang dipengaruhi kebiasaan merokok di dalam rumah serta minimnya ventilasi sehat. Selain itu, masih banyak rumah tangga yang belum memiliki septic tank sesuai standar kesehatan dan keterbatasan armada pengangkut sampah.

Di sisi lain, konsumsi jajanan yang tidak higienis di sekolah maupun tempat kerja turut berkontribusi terhadap tingginya kasus diare dan tifoid. Permasalahan rabies juga masih menjadi perhatian akibat rendahnya cakupan vaksinasi hewan penular rabies dan masih adanya warga yang tidak melengkapi vaksin anti rabies setelah mengalami gigitan.

“Selain itu, pengelolaan limbah peternakan yang belum memenuhi standar kesehatan, penolakan imunisasi pada kelompok masyarakat tertentu, serta belum optimalnya kinerja Tim Gerak Cepat di tingkat puskesmas turut menjadi tantangan dalam upaya pengendalian penyakit,” tandasnya.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *